Benarkah hidup ini di desain
seperti skema ini. kamu dilahirkan. Kamu muda untuk sekolah, bekerja, dan
bersenang – senang. Kemudian, kamu berkeluarga dan membuat keturunan. Lalu,
kamu tua, kamu mulai penyakitan. Kemudian, kamu mati dan tak berdaya.
Begitukah skemanya? Kalau memang
begitu, apakah hidup hanyalah sebuah transformasi dari sperma menjadi fosil?
Seharusnya, kemajuan peradaban di
seluruh dunia dikarenakan meningkatnya taraf berfikir manusia, kan? Dan, taraf
berfikit itu membentuk cara pandang mereka terhadap kehidupan, kan? The way of
life, maknanya itu terletak pada tujuan hidup yang telah mereka rumuskan,
kan?kalu tujuannya salah, maka hal itu sudah cukup untuk membuat seluruh
kehidupan mereka berada dalam kesalahan, kan?
Sehubungan dengan kebingungan
saya itu, ada tiga pertanyaan yang cukup membuat saya terdampar jauh untuk merenung dan
berfikir. Dari mana asal manusia? Untuk apa manusia hidup di dunia? Akan kemana
manusia setelah mati?
Pernahkah kamu memikirkan ini?
yes, the three basic question untuk mencari kebenaran . pernahkah kamu mencari
jawabannya sendiri tanpa di cekoki oleh orang–orang yang seolah – olah ingin
menentukan jalan hidupmu?
Pertanyaan usil itu menggoda rasa
penasaran saya yang semakin hari semakin besar. Dan. Sesudah itusaya malah
mengalami hari–hari yang berat. Tiada hari saya lewatkan tanpa merenung dan
berfikir.
Apa itu agama? Kenapa banyak
sekali agama di dunia ini? mana yang benar? Mana tuhan yang sesungguhnya? Apa
pula kebenaran itu? Apa manfaat beragama? Apa yang dihasilkan dari sebuah agama
terhadap kehidupan saya? Apa yang sebenarnya tuhan ingin dari saya?
saya mulai rindu dengan apa yang
di sebut dengan kebenaran hakiki. Kebenaran yang akan menenttukan tujuan hidup.
Sayan harap saar ini saya menemukan secercah kebenaran. Saya harap secercah
penerangna bisa membawa saya menemukan bongkahan–bongkahan kebenaran lainnya.
But, where do I start?
Disisi lain, saya semakin
menyelami rasa ingin tahu saya. Saya mulai membandingkan kepercayaan–kepercayaan besar yang memiliki pengikutmayoritas. Mungkin sejarah bisa
memnbantu saya menjawab pertanyaan–pertanyaan ini. sejarah ada karena umur peradaban terus melanjut, sedangkan
umur biologis kita hanya sesingkat kedipan mata. Apa yang saya dapatkan? Saya
mencoba mencari jawaban.
Bayangkan, kamu melakukan
pencarian uang sangat panjang, tapi karena kamu merasa telah membuktikan 99%
adalah fakta, kamu terbuai dan tidak mengoreksi lagi sisanya. Tidak bisa
begitu. Saya harus mencari kebenaran 100%.
Dititik ini saya merasa sendirian.
Benar –benar sendirian. Tidak punta
tempat untuk bertanya. Di dalam tangis, saya berdoa, “Ya tuhan, jika kau
menyukai orang–orang yang berfikir, tolonglah aku. Berilah aku secercah
jawaban-Mu. Lalu himpunlah aku bersama dengan orang – prang yang mencari
kebenaran, sama halnya sepertiku. Aku merasa sangat sendirian dan sedih.
Kokohkanlah pendirianku untuk terus mencari jalan-Mu.”
Kebahagiaan tak lebih penting
dari ketenangan. Sebab, banyak yang mencapai indikator – indikator bahagia
dunia, tapi tidak merasakan dengan tenang. Maka, ketenangan menjadi komoditas
yang begitu langka. Sayangya, banyak pula yang tersesat kerena tidak tahu mesti
kemana mencarinya, atau bahkan tidak tahu apa senemarmua arti dari yang
dicarinya itu.
Mereka menilai ketenangan hadir
dari kebahagiaan, dimana kebahagiaan diidentikan dengan materi, mereka hanyalah
rang – orang yang tertipu. Segala sesuatu yang ada didunia ini hanya memiliki
harga sesuai dengan kemampuan manusia dalam memaknainya.
Hati manusia telah di setting
untuk mencari kebenaran, yaitu mengetahui siapa penciptanya. Sebelum hati
menemukan jawabannya, ia belum bebnar–benar bahagia. Selama ini saya selalu
terbutakan oleh hal–hal yang bersifat materi. Saya terbuai leh nikmat yan
nyata. Saya lupa bahwa esensi dari manusia hanyalah jiwa didalam sebuah tubuh.
Artinya, jasad hanyalah sebuah alat, sedangkan ruh yang bersarang didalam
jasad adalah inti dari kehidupan. Selama ini saya terlalu sibuk memberi makan
jasad saya, tanpa memikirkan kebutuhan ruh.


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact