Jumat, 12 Juni 2015 0 komentar

Terimakasih febrianti Almeera

Benarkah hidup ini di desain seperti skema ini. kamu dilahirkan. Kamu muda untuk sekolah, bekerja, dan bersenang – senang. Kemudian, kamu berkeluarga dan membuat keturunan. Lalu, kamu tua, kamu mulai penyakitan. Kemudian, kamu mati dan tak berdaya.

Begitukah skemanya? Kalau memang begitu, apakah hidup hanyalah sebuah transformasi dari sperma menjadi fosil?

Saya kumpulkan rentetan pertanyaan–pertanyaan yang berkecamuk di kepala ini. semua merujuk pada satu ha, yaitu tujuan hidup. Dan, sampai disini, ada ketukan “aha” yang datang. Aha yang ternyata saya sedang melakukan sebuah prooses pencarian jati diri.

Seharusnya, kemajuan peradaban di seluruh dunia dikarenakan meningkatnya taraf berfikir manusia, kan? Dan, taraf berfikit itu membentuk cara pandang mereka terhadap kehidupan, kan? The way of life, maknanya itu terletak pada tujuan hidup yang telah mereka rumuskan, kan?kalu tujuannya salah, maka hal itu sudah cukup untuk membuat seluruh kehidupan mereka berada dalam kesalahan, kan?

Sehubungan dengan kebingungan saya itu, ada tiga pertanyaan yang cukup membuat  saya terdampar jauh untuk merenung dan berfikir. Dari mana asal manusia? Untuk apa manusia hidup di dunia? Akan kemana manusia setelah mati?

Pernahkah kamu memikirkan ini? yes, the three basic question untuk mencari kebenaran . pernahkah kamu mencari jawabannya sendiri tanpa di cekoki oleh orang–orang yang seolah – olah ingin menentukan jalan hidupmu?

Pertanyaan usil itu menggoda rasa penasaran saya yang semakin hari semakin besar. Dan. Sesudah itusaya malah mengalami hari–hari yang berat. Tiada hari saya lewatkan tanpa merenung dan berfikir.

Apa itu agama? Kenapa banyak sekali agama di dunia ini? mana yang benar? Mana tuhan yang sesungguhnya? Apa pula kebenaran itu? Apa manfaat beragama? Apa yang dihasilkan dari sebuah agama terhadap kehidupan saya? Apa yang sebenarnya tuhan ingin dari saya?

saya mulai rindu dengan apa yang di sebut dengan kebenaran hakiki. Kebenaran yang akan menenttukan tujuan hidup. Sayan harap saar ini saya menemukan secercah kebenaran. Saya harap secercah penerangna bisa membawa saya menemukan bongkahan–bongkahan kebenaran lainnya. But, where do I start?

Disisi lain, saya semakin menyelami rasa ingin tahu saya. Saya mulai membandingkan kepercayaan–kepercayaan besar yang memiliki pengikutmayoritas. Mungkin sejarah bisa memnbantu saya  menjawab pertanyaan–pertanyaan ini. sejarah ada karena umur peradaban terus melanjut, sedangkan umur biologis kita hanya sesingkat kedipan mata. Apa yang saya dapatkan? Saya mencoba mencari jawaban.

Bayangkan, kamu melakukan pencarian uang sangat panjang, tapi karena kamu merasa telah membuktikan 99% adalah fakta, kamu terbuai dan tidak mengoreksi lagi sisanya. Tidak bisa begitu. Saya harus mencari kebenaran 100%.

Dititik ini saya merasa sendirian. Benar –benar sendirian.  Tidak punta tempat untuk bertanya. Di dalam tangis, saya berdoa, “Ya tuhan, jika kau menyukai orang–orang yang berfikir, tolonglah aku. Berilah aku secercah jawaban-Mu. Lalu himpunlah aku bersama dengan orang – prang yang mencari kebenaran, sama halnya sepertiku. Aku merasa sangat sendirian dan sedih. Kokohkanlah pendirianku untuk terus mencari jalan-Mu.”

Kebahagiaan tak lebih penting dari ketenangan. Sebab, banyak yang mencapai indikator – indikator bahagia dunia, tapi tidak merasakan dengan tenang. Maka, ketenangan menjadi komoditas yang begitu langka. Sayangya, banyak pula yang tersesat kerena tidak tahu mesti kemana mencarinya, atau bahkan tidak tahu apa senemarmua arti dari yang dicarinya itu.
Mereka menilai ketenangan hadir dari kebahagiaan, dimana kebahagiaan diidentikan dengan materi, mereka hanyalah rang – orang yang tertipu. Segala sesuatu yang ada didunia ini hanya memiliki harga sesuai dengan kemampuan manusia dalam memaknainya.


Hati manusia telah di setting untuk mencari kebenaran, yaitu mengetahui siapa penciptanya. Sebelum hati menemukan jawabannya, ia belum bebnar–benar bahagia. Selama ini saya selalu terbutakan oleh hal–hal yang bersifat materi. Saya terbuai leh nikmat yan nyata. Saya lupa bahwa esensi dari manusia hanyalah jiwa didalam sebuah tubuh. Artinya, jasad hanyalah sebuah alat, sedangkan ruh yang bersarang didalam jasad adalah inti dari kehidupan. Selama ini saya terlalu sibuk memberi makan jasad saya, tanpa memikirkan kebutuhan ruh.
 
;